"Tuhan Tidak Butuh Laparmu”: Kritik Reflektif Puasa dalam Karya Terbaru Muh Anwar HM
Dipublikasikan pada
1 April 2026
Dunia literasi Indonesia kembali menghadirkan karya reflektif melalui peluncuran buku terbaru karya Muh Anwar HM berjudul “Tuhan Tidak Butuh Laparmu (Menguliti Puasa Para Pendusta)”. Buku setebal 172 halaman ini resmi diterbitkan oleh Goresan Pena pada Maret 2026 di Kuningan, Jawa Barat.
Karya ini hadir sebagai buku nonfiksi yang mengangkat kritik terhadap praktik ibadah puasa yang dinilai masih terjebak pada aspek formalitas. Penulis mencoba membedah makna puasa secara lebih mendalam dengan pendekatan psikologis dan reflektif, sekaligus mengajak pembaca untuk mengevaluasi kualitas spiritual dalam menjalankan ibadah.
Dalam pengantarnya, Muh Anwar HM mengungkapkan bahwa buku ini lahir dari kegelisahan intelektual terhadap fenomena ritual tahunan yang kerap hanya menyisakan lapar dan haus tanpa perubahan perilaku. Ia menegaskan bahwa esensi puasa seharusnya tidak berhenti pada aspek fisik, melainkan harus diiringi dengan kejujuran spiritual dan pembenahan karakter.
Buku ini secara khusus menyasar kalangan akademisi, praktisi pendidikan, serta masyarakat umum yang ingin memahami dimensi ibadah secara lebih mendalam. Gaya penulisan yang lugas dan kritis menjadi ciri khas penulis dalam menyampaikan gagasan, sehingga pembaca diajak untuk melihat realitas diri secara jujur.
Sebagai CEO Indonesian Teaching Mind Technology, Muh Anwar HM juga memasukkan pendekatan mindset dalam membahas tema keagamaan, menjadikan buku ini relevan dengan dinamika kehidupan modern. Proses penyuntingan oleh Sitti Zakiyah AM turut memperkuat alur narasi sehingga tetap mudah dipahami tanpa mengurangi kedalaman isi.
Apresiasi terhadap karya ini datang dari berbagai tokoh. Ayub Handrihadi menilai buku ini sebagai kontribusi penting dalam memperkaya pemahaman spiritual masyarakat. Sementara itu, Usman DP melihat buku ini mampu menjembatani antara konsep akademik dan realitas sosial yang terjadi di masyarakat.

Penerbit menyebut buku ini sebagai salah satu karya yang berani karena mengangkat tema yang sensitif namun dekat dengan kehidupan masyarakat. Selain mengulas aspek teologis, buku ini juga menyoroti cara kerja pikiran manusia yang kerap mencari pembenaran atas praktik ibadah yang tidak substantif.
Melalui buku ini, Muh Anwar HM menegaskan bahwa karyanya bukan bertujuan untuk menghakimi, melainkan sebagai ajakan untuk menjalankan ibadah dengan lebih jujur dan bermakna. Buku ini diharapkan dapat menjadi pemantik diskusi serta refleksi bagi pembaca dalam memahami esensi puasa secara lebih mendalam.
Terakhir diperbarui: 1 April 2026