Coach Anwar HM: Sistem Evaluasi Pendidikan Saat Ini "Membantai" Potensi Unik Generasi Muda
Dipublikasikan pada
8 Juni 2026MAKASSAR – Dr. Muh. Anwar HM, S.Ag., M.Pd., pakar hypnoteaching sekaligus praktisi pendidikan, melontarkan kritik tajam terhadap sistem evaluasi pembelajaran di Indonesia yang dinilai telah menjadi "ritual pembantaian massal" terhadap potensi unik siswa. Dalam pandangannya, sistem ujian tertulis saat ini lebih menonjolkan aspek penghukuman daripada pengembangan diri.
Kritik terhadap Standarisasi Kaku Coach Anwar menyoroti bahwa ujian pilihan ganda yang kaku telah mereduksi keberagaman intelektual manusia menjadi sekadar angka statistik. Ia menilai sistem saat ini memaksa setiap individu diukur dengan standar yang sama tanpa mempertimbangkan bakat yang berbeda, seperti kecerdasan spasial, kepemimpinan, atau empati.
"Kita telah menciptakan sistem yang membuat ikan merasa bodoh seumur hidup karena mereka diuji berdasarkan kemampuan mereka memanjat pohon," ujar Coach Anwar, menggambarkan ketidakadilan dalam metode penilaian tradisional.
Dampak Psikologis dan Biologis Menurut Coach Anwar, tekanan ujian yang berlebihan telah menyebabkan jutaan siswa mengalami tingkat stres yang mendekati gangguan klinis. Secara biologis, kondisi tertekan (threat state) ini menyebabkan amigdala membajak korteks prefrontal pada otak, sehingga siswa tidak mampu berpikir jernih meskipun sebenarnya mereka menguasai materi.
Seringkali, dosen dan guru menggunakan ujian sebagai instrumen kekuasaan untuk menakut-nakuti, yang berujung pada pemberian label "produk gagal" bagi mahasiswa yang mendapatkan nilai buruk.
Solusi Melalui Pendekatan Hypnoteaching Sebagai solusi, Coach Anwar menawarkan dekonstruksi sistem evaluasi melalui teknik hypnoteaching. Ia mendorong perubahan paradigma dari momen yang menakutkan menjadi "perayaan kompetensi" atau reward state. Beberapa teknik yang ditawarkan meliputi:
Positive Expectation Framing: Membangun ekspektasi positif sebelum evaluasi dimulai.
Post-Hypnotic Suggestion: Menanamkan sugesti bahwa ujian adalah kesempatan untuk menunjukkan kejeniusan.
Anchoring: Mengunci rasa percaya diri peserta didik agar mampu menghadapi tantangan akademis dengan tenang.
Transformasi Metode Penilaian Dampak dari pemikiran yang disebarkan melalui berbagai lokakarya internasional ini mulai terlihat dengan banyaknya institusi yang meninjau ulang metode penilaian mereka. Fokus mulai bergeser dari ujian hafalan mati menuju penilaian berbasis proyek, portofolio kehidupan, dan simulasi dunia nyata yang terintegrasi dengan stimulasi bawah sadar.
Coach Anwar menegaskan bahwa tugas sejati dari evaluasi adalah untuk menyalakan lilin kesadaran akan potensi diri siswa, bukan memadamkannya. "Jangan biarkan sistem yang dangkal membatasi keagungan impian Anda. Jadikan setiap ujian sebagai batu pijakan untuk melompat lebih tinggi," pungkasnya.
Terakhir diperbarui: 8 Juni 2026
